Pages

Labels

Tampilkan postingan dengan label traveliary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label traveliary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Januari 2017

MBAK SEKAR RANTAU MACAU


“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.” – Ibn Battuta


Ada, perempuan-perempuan yang rela menyeberangi samudra demi merantaukan nasibnya. Tak sekadar agar punya rumah tembok dan televisi layar datar di kampungnya, atau agar anak kesayangannya punya sepatu bersol kelap-kelip, tapi juga demi harapan agar jarak mampu mengobati luka-luka di hatinya. Perih akibat dikhianati, putus asa karena dianggap makhluk kelas dua tak berguna, malu dengan kodisii ekonomi keluarga. Saya berjumpa dengan salah satunya. Di pusat Senado Square, Macau. Lebih tepatnya, ia yang menemukan saya.

Kurang ajar, memang, baru beberapa bulan jadi copy editor baru sebuah penerbitan, saya sudah maju ke meja Pak Redpel dengan wajah sememelas mungkin. Berniat berutang cuti. Saya yang karyawan baru ini belum punya jatah cuti, kalaupun boleh harus dengan kondisi khusus dan itu pun memotong cuti yang kelak akan saya dapatkan. Terima kasih kepada Air Asia yang menghadiahi saya “kondisi khusus” ini setelah kompetisi menulis yang diadakannya. Hadiahnya sederhana saja: boleh pilih destinasi mana pun di Asia yang diterbangi Air Asia dan mereka yang akan menanggungnya. Salah saya kalau saya dengan senang hati menerima? Sambil memilin kumis, Pak Mul menjawab, “Yowes, jangan lupa oleh-oleh.” Saya selalu mendoakan bos-bos yang murah memberi cuti kepada stafnya agar selalu sejahtera!

Naluri manusia, dikasih satu pilihan bingung, dikasih banyak pilihan lebih bingung lagi! Brian, seorang teman asal Hong Kong, tiba-tiba saja riuh mengompori, “Just choose my homeland, I know you’ll love it! Come to see tiny island where I born.” Brian seorang perantau yang menyesap cangkir nafkahnya dari tambang-tambang mineral di Indonesia. Kegemarannya di Jakarta adalah naik taksi ke mana saja, bahkan sekadar keluar makan siang dari ujung ke ujung Sudirman. Tarif taksi di Jakarta yang “murah” dibandingkan Hong Kong membutnya tak mau repot-repot meminta fasilitas mobil dari perusahaan tempatnya bekerja. Kami berkenalan lewat komunitas Couchsurfing, dan sejak itu sering bertukar referensi destinasi.

Setelah menimbang apakah Srilangka ataukah Hong Kong-Macau, saya akhirnya memilih yang terakhir. Terkadang saya tak habis pikir, bagaimana Semesta bisa memilihkan arah mana dalam kompas hidup saya yang sebaiknya saya pilih. Meyakininya kadang kala tak terlalu susah, pilihan mana yang paling membuat senyummu lebar ketika terlintas dalam benakmu.

Jika waktu memberimu kesempatan untuk berjalan solo, ambil tanpa pikir panjang. Rasanya seperti ujian semester, untuk mencari tahu seberapa banyak hidup mengajarimu cara menjadi manusia. Ketika berjalan sendirian di tengah kerumunan orang asing, di negeri asing, dengan bahasa yang antah berantah di telinga, kau akan tahu cara untuk menyayangi dirimu sendiri.

Udara dingin November mengembusi kedua pipi saat keluar dari mansion tempat saya menumpang rebah semalam. Semalam, saya turun dari bus A21 rute bandara-Tsim Sha Tsui dan menemukan diri saya berdiri di ruas jalan yang semakin sibuk di jam pulang kantor. Billboard raksasa tampir mencolok terang di mana-mana, tak ada yang boleh terselubung gelap. Gerimis membuat saya buru-buru mengeluarkan payung lipat yang sengaja saya selipkan di samping tas, yang berakhir patah gagangnya entah bagaimana. Artinya saya harus rela dibaptis hujan Hong Kong penyambut selamat datang. Saya mendongakkan kepala ke langit, menjemput tetes hujan pertama saya di negeri ini, di tengah lalu lalang pekerja kantoran yang berjaan cepat sembari merapatkan jaket, diburu lapar didera lelah ingin segera menghela napas panjang.

Pagi ini, rasanya saya memilih elevator yang sekaligus portal waktu. Lampu-lampu papan reklame beragam ukuran sudah lenyap, sisa-sisa hujan memenuhi udara pagi yang lembap, dengan aroma samar jejak pesta jalanan malam sebelumnya. Semua terlihat lengang kelabu dari ujung ke ujung. Sambil menyusupkan kedua tangan di dalam kantong jaket, saya menjadi pelancong pertama yang menyapa jalanan Tsim Sha Tsui menuju dermaga penyeberangan ke Macau. Mengendap-endap di teras kota saat para pemiliknya masih pulas memimpikan negeri ini merdeka seutuhnya dari penguasa daratan.

Kapal feri penghubung Hong Kong dan Macau merapat menjelang siang dihantar ombak. Saya sepertinya salah waktu, Macau sedang jadi tuan rumah Grand Prix Formula 3 Kau akan tahu betapa dalam sebuah negeri dicengkeram peradaban suatu bangsa dari sisa-sisa peninggalannya.
Ketika tak cukup tahu ke sudut kota mana sebenarnya saya ingin pergi, indra kaki saya mengambil inisiatif dan mengarahkan tujuan ke titik paling standar di kota apa pun: alun-alun. Saya berterima kasih kepada siapa pun yang merealisasikan ide bahwa naluri berkerumun manusia harus difasilitasi dalam ruang terbuka massal semacam ini.

Saya sebenarnya ada janji temu dengan dua orang teman asal Jakarta yang kebetulan sedang melancong ke Macau juga. Sembari menunggu SMS kabar dari mereka, saya memilih duduk di bangku beton di tengah Senado Square, nama resmi yang tercantum dalam peta. Nama yang ternyata asing di lafal lidah penghuni asli kota ini. Saya baru tahu belakangan bahwa mereka biasa menyebut alun-alun kota mereka ini dengan nama Sarmalo Square. Ini hal yang biasa terjadi di Macau. Nama-nama papan jalan yang tertulis dalam Bahasa Portugis sekadar jadi pajangan saja bagi penduduk sekitar yang lebih paham aksara Tiongkok.

Momen paling mewah ketika memilih berjalan solo adalah ketika kau bisa terpekur bengong dengan syahdu di mana suka. Bangunan-bangunan tua peninggalan Portugis mengepung di segala penjuru kota. Jika semua orang sepakat berkostum ala abad ke-16 saat itu juga, tidak akan ada yang tahu zaman sebenarnya sudah berganti. Negeri ini memang belum lama berganti “juragan”. Kalau kau merasa Indonesia sudah sangat payah didera okupasi Belanda berabad-abad, kasihanilah Macau yang dari tahun 1557 sampai 1999 berada dalam pelukan erat Portugal. Ada satu perpustakaan lama yang sedang saya cari-cari lokasinya dalam peta wisata yang saya ambil di pelabuhan feri tadi.

“Sendirian?”
Saya pikir saya sedang mengarang dialog dalam kepala. Saya abai saja dan membiarkan ujung telunjuk sibuk menelusuri peta.
“Sedang menunggu teman?”

Astaga, benar-benar ada yang menyapa! Saat mendongak, di depan saya berdiri perempuan berambut panjang pirang dengan rok jeans selutut dan topi bowler merah di kepala. Wajahnya sangat Nusantara, saya tak perlu berpikir ulang dia warga negara mana.

“Oh, lagi nyari rute ke perpustakaan nih, Mbak,” jawab saya dengan senyum lebar. Disapa dengan bahasa ibumu selalu terasa menyenangkan, bukan?
“Sendirian? Kerja di sini?” berondongnya lagi, menghenyakkan diri duduk di samping saya. Aroma manis parfumnya kontras dengan udara kota tua di tengah terik siang.
“Lagi liburan saja, iya sendiri. Kerja di sini, Mbak…? jawab saya menggantung.
“Sekar, iya aku kerja di sini. Mbak siapa?” balasnya sembari menghulurkan salam.
“Aku Muthia Esfand. Sedang off, Mbak?” tanyaku memperpanjang obrolan. Jika tak sedang libur rasanya tak mungkin jam segini ia bisa bebas berkeliaran.
“Biasanya memang masuk sore, menjelang majikanku pulang. Biasalah, masak, bersihin rumah, sama ngurusin ibunya majikan yang sudah tua,” jelasnya, melepas topi merahnya untuk kipas-kipas. “Kok berani jalan-jalan sendiri?”
“Sudah biasa, Mbak, kadang asyik saja sih jalan sendiri, kenalan lagi sama diri sendiri,” jawab saya, sedikit beralih fokus ke sekelompok biarawati yang lewat bergerombol di depan kami. Hendak mengunjungi reruntuhan St. Paul mungkin.
“Eh, main ke rumah, yuk, daripada di sini sendiri, nanti aku temani jalan sebentar, sambil ke rumah majikan. Istirahat dulu aja yuk,” ajaknya sambil bergegas bangkit.
Tawarannya menarik juga, toh tak ada salahnya juga. Hitung-hitung dapat teman baru sambil ngaso istirahat dan shalat.
“Wah, boleh juga, Mbak,” sambut saya dengan senyum penuh.

Kami berdua berjalan bersebelahan menyusuri paving blok Senador Square ke arah jantung kota tua. Di setiap langkah yang jatuh menapak lantai batu, yang terbayang malah pertanyaan tentang siapa saja yang dahulu pernah menapaki jalanan ini. Sepasang kekasih? Sekumpulan anak sekolah? Para opsir berlogat Inggris Raya? Atau seperti saya, musafir solo yang merelakan kenyamanan rumah sekadar demi mereguk pengetahuan dan pengalaman baru. Pusat kota tua Macau ini sepertinya tak pernah mati disambangi pelancong. Papan petunjuk jalan dalam dua bahasa: Portugis-Inggris menjadi pemandu jalan para pendatang.

“Muthia asli mana? Kalau aku dari Malang,” cakap Mbak Sekar sambil membetulkan letak topinya.
“Sama, Mbak, aku dari Jawa Timur juga,” sahutku.
“Mampir sebentar, nggak apa-apa? Mau ke warung,” tanya Mbak Sekar.
“Santai, Mbak, mampir aja.”
Ia berbelok masuk ke lorong kecil di antara dua toko oleh-oleh. Apa yang ada di ujung lorong sepertinya menjadi tujuan utamanya. Warung? Saya pikir maksudnya supermarket atau semacam restoran, ternyata benar-benar “warung” seperti yang bisa saya jumpai di sekitar rumah saya di Depok.

Warungnya kecil saja, sekitar empat kali empat meter. Beberapa gadis perantauan memilih-milih sayuran dan buah yag ditata di bagian depan. Obrolannya dalam bahasa yang familier di telinga saya. Kardus-kardus Indomie bertumpuk di sudut, kopi instan sasetan berjuntaian.

“Eh, Sekar, ke mana saja nggak pernah keliatan?” tanya seorang ibu yang duduk di balik kasir, sang pemilik warung tampaknya. Ia bertanya dalam bahasa khas Jawa Timur. “Sekar, siapa namamu dulu itu? Sekarang jadi ayu tenan, lho,” ucapnya lagi sambil tertawa kecil. Komentarnya sedikit membuat alis kiri saya naik, rasa penasaran yang saya telan diam-diam.

Sekar menanggapi dengan senyum, menyodorkan beberapa barang yang dicarinya untuk dibayar. Semua pembeli sepertinya saling kenal. Macau memang kecil saja, tempat semacam ini pastilah akan jadi favorit para perantau. Obat rindu citarasa kampung halaman. Selesai dengan belanjaannya, ia memberi saya kode untuk mengikutinya keluar. Ada calon yang pertanyaan yang cepat-cepat ingin dihindarinya, mungkin.

Kami kembali menyusuri jalanan utama, melewat toko-toko jajanan yang berebut menyerbu para pejalan dengan aroma kue baru matang dari oven. Di depan setiap toko kue selalu ada pegawai toko dengan senampan makanan tester. Lapar, tinggal comot, begitu terus bolak-balik pasti kenyang. Lumayan, hemat uang saku. Di jalanan yang menyempit dijejali pelancong, saya mengekor di belakang Mbak Sekar. Sesekali menengok ke arah kios Portugese Egg Tart, resep asli dari masa pendudukan. Kalau tak ingat harus bersopan-sopan dengan Mbak Sekar, saya sudah kabur melahap satu dus kue itu. Jajanan paling enak seantero Macau. Membayangkan tekstur lembutnya menyapa lidah saya, mentega dan telur berpadu manis, menggoyahkan iman saya. Murahan sekali!

Saya sebenarnya bertanya-tanya, di bagian mana kota tua ini Mbak Sekar tinggal. Pertanyaan yang terjawab ketika ia berbelok masuk lagi ke jalanan yang lebih kecil dan berhenti tepat di depan deretan rumah dua lantai, lebih mirip deretan ruko.

“Aku tinggal ramai-ramai sama yang lain. Sebentar, ya, lupa tadi enggak bawa kunci,” ucapnya terkekeh kecil. “Rin, rin, bukakne pintune!” serunya dalam bahasa Jawa, ke arah jendela di lantai dua. Ada kepala berekor kuda yang menyembul dari balik tirai jendela lantai dua, menggelengkan kepala tanda permakluman lalu lenyap lagi. Pintu dua lapis pun terbuka, sosok seusia Mbak Sekar menyambut dengan senyuman saat melihat ada saya yang mengekor di belakang temannya.

“Ini Muthia, tadi ketemu di Sarmalo,” ucap Mbak Sekar memperkenalkan. Saya mengangguk dan mengikuti mereka menuju tangga ke lantai atas.
Sepertinya ini semacam rumah sewa yang dibagi-bagi menjadi beberapa bagian. Di ujung tangga, ada tiga pintu yang terlihat, mereka berdua memilih pintu yang paling tengah.
“Yuk, masuk, maaf ya kalau seadanya, namanya juga perantauan.”
Beberapa perempuan sedang asyik dengan aktivitasnya masing-masing di dalam kamar. Bagian tengah tampaknya ruang bersama, dengan tambahan ranjang tingkat di sudutnya. Seorang perempuan berambut cepak sedang menyelonjor malas.
“Sekar, bawa titipanku… eh, ada tamu tho…” Sebuah kepala melongok dari balik pintu kamar satu-satunya di ruangan itu.
“Hai, Mbak,” sapa saya canggung.
“Di sini kami tinggal ramai-ramai, Muthia, itu Rini, kerjanya di kasino, yang lagi tiduran itu Dian, kerja di restoran tapi lagi shif malam. Yang tadi bukain pintu Ratna. Satu lagi sedang pulang kampung,” jelas Mbak Sekar memperkenalkan teman serumahnya. “Muthia ini lagi jalan-jalan sambil nulis,” tambahnya lagi. Mereka bertiga menyalami saya dengan hangat, sebelum kembali dengan kesibukan sendiri-sendiri.

Saya duduk menyelonjorkan kaki di atas karpet yang digelar di depan televisi layar datar. Kantuk mulai merayu pelupuk mata. Tempat tinggal mereka tidak terlalu besar, tapi auranya terasa seperti rumah, yang menjadi saksi hening denyut rindu kampung halaman di seberang samudra. Dengkuran halus terdengar dari ranjang tingkat di sudut. Desis minyak panas di atas kompor jadi instrument pengantar tidur. Entah apa yang sedang digoreng Ratna, aroma manisnya membuat ekor mata saya mencuri-curi pandang kea rah dapur.

“Muthia, ajarin aku nulis, dong,” ujar Mbak Sekar tiba-tiba, sambil ikut duduk di sebelah saya. Menata kue-kue dari dalam plastik yang sedari tadi dibawa-bawanya ke atas piring kosong di hadapan saya. “Aku sering nulis, awalnya buku harian begitu. Lama-lama coba nulis cerpen, tapi pasti enggak bagus kalau dibandingkan kamu.”
“Wah, keren dong, Mbak, masih sempat nulis. Masih sampai sekarang, Mbak? Kalau mau kirim saja nanti ke email-ku, nanti bisa kita diskusikan kok isinya dan maunya Mbak Sekar nulis yang bagaimana.” Saya sudah sering mendengar kabar bahwa pekerja migran asal Indonesia di Hong Kong termasuk yang aktif dan produktif menulis. Rata-rata menuliskan pengalaman dan gejolak kebatinan yang mereka rasakan sehari-hari. Menulis memang seajaib itu, obat tenang jiwa yang lebih ampuh dari racikan mahal apa pun. Tak selamanya apa yang disimpan kepala dan hati bisa terus bisa ditahan-tahan untuk tak dikeluarkan. Menuangkannya dalam baris-baris aksara berarti membagi beban hati-kepala kepada indra lainnya.
“Eh, beneran boleh kirim email? Apa alamatnya?” Ia lalu buru-buru menggeledah tas tangannya, mencari selembar kertas dan pena, menyorongkannya ke depan saya, yang segera saja saya isi dengan alamat email saya. Saya mau menjadi tempatnya berbagi cerita dalam deretan abjad, jika itu bisa membuatnya bahagia menjalani hari-hari perantauan.
“Apa yang biasa ditulis, Mbak?” tanya saya, dengan tangan kanan mencomot sepotong kue yang disodorkan ke depan saya.
“Yah, pengalaman pribadi sih. Awalnya aku nulis kecewa sama suami di kampung. Sudah jauh-jauh merantau, malah ngabisin uang yang aku kirim. Mana anak jadi enggak keurus,” curhatnya. “Lama-lama jadi ngerasa nulis itu ternyata lumayan bisa bikin lega hati dan pikiran. Daripada dipendam, iya kan? Eh, jadi mau jalan-jalan? Aku bisa nemenin sebentar,” tutup Mbak Sekar, seperti enggan melanjutkan lagi keluhnya. Saya bisa apa, selain mengikuti saja kemauan sang nyonya rumah. Jika ingin dunia tenteram damai, perempuan itu harus dituruti perubahan suasana hatinya, baru bernegosiasi setelahnya.
“Saya sih senang banget, Mbak, kalau mau nemenin. Perpustaan tuanya enggak jadi deh, kita ke Venesia saja yuk,” sambut saya. Ya sudahlah, kali ini saya berbelok tujuan ke tepian Macau, ke tempat jantung perekonomian kota ini berdegup kencang: mega kasino. Judi adalah citra kota yang sebenarnya, deretan bangunan tua hanyalah kemasan humanisnya. Seperti nadi utama yang tanpanya kota akan perlahan sekarat. Paling tidak, begitulah keyakinan masyarakat setempat.
“Sekar, Mbak Muthia, aku pamit jalan dulu ya,” pamit Rini tiba-tiba sambil keluar dari kamar. Sudah cantik dalam dandanan semacam baju seragam dan pulasan make up tipis.
“Rini ini kerja di kasino yang ada di depan pelabuhan feri, tadi kamu pasti ngelewatin,” terang Mbak Sekar.
“Kerja di kasino enak, Mbak, gajinya lumayan, ada hari liburnya, bisa tinggal di luar juga. Nggak kayak kalau jadi asisten rumah tangga, harus tinggal di dalam. Susah keluar,” sambung Rini tanpa melihatku, sedang sibuk memasukkan kaki jenjangnya ke dalam sepatu berhak tinggi. “Yowes, aku duluan ya, assalamualikum…” Dan ia pun berlalu menuju hari-hari takdirnya sendiri.
“Kok Mbak Sekar bisa tinggal di luar begini? Biasanya bukannya harus tinggal bareng sama majikan?” tanya saya penasaran.
“Iya biasanya begitu, tapi majikanku untungnya baik banget. Dia polisi. Jadi aku datang jam-jam tertentu saja, yang penting beres. Mau cari kerja lain aku enggak terlalu punya skill.  Kadang aku iri lho sama perantau yang dari Filipina, mereka rata-rata sudah bisa bahasa Inggris. Sudah gitu pemerintahnya di sini peduli banget, sering ada kursus computer macam-macam. Makanya orang Filipina di sini dapat kerjanya bagus-bagus. Kalau sudah bisa bahasa Inggris ditambah computer, gampang kerja di kasino atau yang kantor. Kalau nggak ya paling di restoran atau rumah tangga. Tapi, yah, paling enggak lebih enak di sini daripada di Singapura atau Hong Kong, di sini mudah tinggal di luar dan cari rumah yang masih lumayan terjangkau.” Terangnya panjang lebar.
“Memang KBRI sini enggak bikin acara atau pelatihan rutin gitu, Mbak?” selidik saya penasaran.
“Jarang banget. Lebih seringnya teman-teman di sini yang rutin biin acara. Kadang pengajian, kadang pentas seni, kadang ya kumpul-kumpul saja bawa makanan sendiri-sendiri. Beda deh sama kedutaan negara lain.”

Sudah lama sekali dipendam sepertinya apa yang dicurahkan Mbak Sekar kepada saya barusan. Hidup di negeri sendiri saja terkadang berat, apalagi hidup di negeri orang dengan segala keterbatasannya. Megharap perwakilan resmi pemerintah untuk benar-benar peduli menjaga dan memperjuangkan kesejahteraan mereka pun kadang seperti berharap gaji bulanan naik setiap hari. Sia-sia. Jadi jangan salahkan jika peluang ini dihisap oleh agen-agen penyalur tenaga kerja tak berizin yang tak jarang semakin mempersulit hidup mereka.

“Sambil jalan, yuk, biar enggak kesorean,” ajak Mbak Sekar sebelum saya sempat mangap mengajukan pertanyaan lagi.

Saya membantu membereskan piring kue ke dapur. Kardus mi instan tergeletak di sudut dapur. Ramuan pamungkas penawar kangen. Beberapa barang di dapur tampat familier, mereka seperti ingin memampatkan jarak di markas perlindungan ini. Agar seolah-olah mereka tinggal bersebelahan dengan orang-orang terkasih di jauh sana. Seperih-perihnya hati dilukai orang terdekat, tetap saja mendenyutkan rasa rindu ingin melihat muka. Aroma cabe pedas bercampur sisa minyak goreng terjebak di atap dapur.

Mungkin saya sulit punya kesempatan mampir lagi ke rumah mereka ini. Mungkin mereka hanya sekadar jadi orang-orang asing yang bersilang jalan dengan saya dan tinggal menjadi kenangan. Sama seperti nama-nama lainnya yang pernah singgah dan jadi bagian sejarah. Tapi saya yakin Tuhan beri kesempatan untuk bertemu Mbak Sekar dan teman-temannya dengan tujuan tertentu. Saya hanya perlu mencari tahu sebelum punggung kami sama-sama membelakangi dan berjalan ke arah takdir masing-masing.

Sisa terik masih terasa di luar ketika kami membuka pagar dan beranjak ke jalanan utama. Bagian dalam rumah yang remang-remang, kontras dengan terang benderang suasana jelang sore. Riuh derap sepatu di jalanan batu yang berpadu dengan segala macam bahasa, yang tadinya teredam seketika di dalam rumah, kini kembali menyerbu gendang telinga. Di ujung lorong, kami berbelok ke kanan, kembali ke area utama alun-alun tempat halte bus berada. Saya menengok sekilas ke reruntuhan gereja St. Paul di kiri saya, daya tarik utama kawasan ini. Arsitekturnya mirip dengan gereja-gereja Katholik lama di sepenjuru Filipina. Spanyol dan Portugis, meski selalu bersaing berabad-abad, tetap berbagi cinta dalam kemiripan gaya bangunannya. Jangan benci dalam-dalam, jangan cinta sampai mati, karena bedanya tipis saja untuk pindah perasaan.

Ketika melewati jalanan batu yang menyempit dan sedikit menurun, saya bertemu lagi dengan para penjaga toko kue dengan nampan testernya. Tak mau rugi, sambil mendengarkan cerita Mbak Sekar yang berlanjut, aksi comot sana-sini tetap saya lancarkan. Kali ini korbannya toko kue yang mencual biskuit mentega bertabur kacang walnut yang langsung kress, meremah lembut di dalam mulut. Terbaik!

Para pelancong tak lagi menjejali jalanan, sebagin besar melipir masuk ke kafe-kafe di sepenjuru Senado Square. Menikmati teh Oolong dengan sepiring penganan Portugis. Sambil membolak-balik daftar tujuan wisata dan jadwal feri. Kami menunggu bus kota di halte pertama tak jauh dari Senado Square. Tujuan kami adalah Venetian Macau. Ya, ya, ini memang kasino, tapi yang terbesar di Macau, lengkap dengan pusat belanja, hotel, dan sarana hiburan. Melongok sebentar tak masalah, kan?

“Katanya ada bus gratis ya, Mbak?” Tanya saya penasaran dengan info yang sering say baca.
“Ada, tapi jarang. Naik umum saja, murah kok,” jawab Mbak Sekar. Yah, namanya juga fasilitas gratis!

Bus nomor 21A yang ditunggu berhenti presisi dengan decit rem yang keras di hadapan kami. Satu per satu penumpang turun dan naik bergantian. Saya mengekor di belakang Mbak Sekar.
Dua kursi penumpang tersisa, yang langsung saja kami tempati. Suara-suara balapan masih terdengar. Entah sudah berapa kali para pembalap GP Formula 3 itu memutari rute yang sama. Berputar terus demi podium pertama. Gedung-gedung tua yang disulap jadi hotel dan kasino berselingan di kanan-kiri jalan raya. Dua orang perempuan Indonesia duduk di depan kami. Bercakap tentang pekerjaan dan rencana kembali ke kampung. Nada antusias dalam obrolan mereka sudah jadi jawaban betapa bahagianya si mbak yang berencana mudik itu.

“Enggak berencana balik, Mbak?” tanya saya melirik Mbak Sekar yang duduk dekat jendela.
Ia tak langsung menjawab, malah tetap melempar pandangan ke luar jendela bus. Saya menyesal menyentuh bagian dirinya yang paling sensitif. Siapa sih yang tak mau pulang ke rumah? Bodoh sekali pertanyaan saya barusan.
“Pengin, pasti, tapi di sana nanti ngapain? Suamiku katanya sudah kawin lagi. Padahal aku banting tulang buat bantu keluarga. Karena sudah lama berantem terus itulah aku pindah-pindah negara jadi TKW. Di Singapura pernah, di Hong Kong pernah. Pernah juga akhirnya memutuskan pulang, tapi ya di sana malah jadi enggak produktif. Akhirnya balik ke Hong Kong terus ke sini. Di sini sudah ngerasa nyaman, majikan baik, pekerjaan bisa ngikutin. Lagian, kalau pulang ribet nanti urusan di bandara. Yang malakin sadis!” kalimat terakhir diucapkannya dengan nada geram yang tipis. Apa lagi ini?
“Maksudnya, Mbak?”
“Di bandara Jakarta TKW selalu dimintain duit. Makanya rata-rata sebelum pulang uang sudah dikirim dulu ke rekening di sana biar aman. Yang dibawa tinggal buat ongkos saja. Pernah, ada temanku yang pulang bawa laptop yang baru dibeliin sama majikannya. Sampai bandara Jakarta, mau keluar imigrasi, ditanya harga laptopnya berapa, disuruh bayar senilai laptop itu! Gila, kan? Temanku marah-marah, kata dia itu laptop dikasih sama majikannya karena dia suka nulis. Tahu enggak dia akhirnya gimana? Dibanting itu laptop di depan si petugas sampai pecah berantakan, dilihatin banyak orang. Terus dia langsung keluar.” Mbak sekar membuang pandangannya keluar jendela, ke arah selat Macau yang ada di sisi kiri jembatan yang sedang kami lewati. Seperti ingin membuang kesal jauh-jauh.

Kesal yang paling ultima adalah ketika diri tak kuasa mengubah keadaan. Tak kuasa melawan sampai titik penghabisan. Saya bingung mau berkomentar. Pengalaman beraktivitas di sayap perempuan sebuah organisasi mahasiswa, rasanya tidak ada apa-apanya dengan apa yang dialami Mbak Sekar dan teman-temanya. Wajar jika mereka enggan pulang, tidak tertarik terlibat dalam pembangunan negerinya sendiri dan malah berjibaku membangun negeri orang lain. Rasa rindu tanah air dikaburkan dengan rasa takut berhadapan dengan oknum-oknum berseragam yang katanya satu tanah air satu bangsa. Tak main-main taruhannya, tabungan setahun yang dikumpulkan susah payah bisa musnah begitu saja jika tak pintar-pintar menyiasati. Bayangkan saja, ada berapa ribu TKW lain yang tidak secerdik Mbak Sekar dan teman-temannya di sini yang mengamankan dulu “asetnya” sebelum pulang.

“Cari lagi saja, Mbak, di sini. Siapa tahu ada cowok Macau ganteng kaya raya,” goda saya mengalihkan sedihnya.

“Ah, malas sama laki-laki. Paling sama saja. Aku punya teman dekat kok di sini, cewek tapi, teman ngobrol dan curhat saja sih. Cuma itu kan kadang yang perempuan butuhkan?” Jawabannya membuat alis saya naik sebelah. Saya manggut-manggut saja.
“Mau lihat fotoku dulu?” Sebelum saya sempat menjawab, ia sudah mengeluarkan telepon genggamnya, mencari folder foto dan merapatkan tubuh lebih dekat ke arah saya. “Ini aku dulu, beda banget ya?” Tawa renyahnya pecah lagi.

Di dalam foto-foto yang disodorkannya kepada saya, bukan sosok perempuan berdandan seperti yang tadi menyapa saya di alun-alun, melainkan sosok perempuan berambut pendek dicat merah terang, dengan celana jean dan kemeja kotak-kotak, lengkap dengan gelang ala penyanyi rock. Saya meliriknya, yang disambut dengan senyum lebar seolah tahu apa yang ada dalam kepala saya.

“Kok berubah, Mbak?”
“Enggak tahu juga, pengin berubah saja tiba-tiba. Itu dulu awal-awal di Hong Kong terus pindah ke sini. Dulu aku dipanggilnya bukan Sekar, tapi Eka, biar lebih keren gitu,” kekehnya lagi.
Ingatan saya mundur ke belakang beberapa jam lalu saat kami mampir di warung Indonesia. Pantas saja sepertinya si ibu warung sempat menyinggung perubahan ini sambil memancing menggoda. Ah, namanya manusia, berubah hal biasa. Semua punya alasan dan sebab, siapakah saya hingga bisa cepat melabeli.

Ia lalu menekan lagi teleponnya ke foto-foto lainnya, hingga tiba di sebuah foto dirinya berdua dengan seorang perempuan. Mereka sedang berboncengan sepeda. Penampilan mirip dengan dengan Mbak Sekar di foto-foto lamanya. Hanya tidak seeksentrik Mbak Sekar dengan rambut merah dan gelang-gelang metal.

“Ini Dias, teman dekatku, yang tadi kuceritakan,” jelasnya sambil mengusap layar teleponnya. Saya tak mau menerjemahkan senyum malu-malu yang terbit dari bibirnya. Takut salah-salah.

“Kami punya rencana nabung bersama, nanti pulang kampung bareng dan bikin usaha. Biar enggak usah balik lagi ke sini. Buka warung dan semacamnya. Niatnya juga bulan depan dia tinggal bareng aku di rumah. Rini kontraknya mau habis, katanya enggak perpanjang lagi. Muthia punya pacar di Indonesia?”

Saya cuma menjawab dengan senyuman. Ah, komplikasi hidup saya rasanya bukan untuk didengarnya. Kali ini tugas saya jadi pendengar yang baik untuknya. Orang asing tempatnya menitipkan cerita, rahasia, dan rencana, yang barangkali lebih dipercayainya dibandingkan keluarga dan teman dekat. Kau akan terkejut ketika memahami betapa kadang kita memang seperti itu, lebih percaya orang lain yang baru kita temui lima menit, dibandingan orang yang bertahun-tahun menemani kita di segala musim.

Bangunan megah Venetian Macau menjulang di hadapan bus yang perlahan melewati gerbang utamanya. Sepertinya tinggal pelancong dan pegawai shif malam yang tersisa di atas bus.
“Aku temani sebentar terus aku langsung jalan lagi ya, nanti dari sini gampang kok, naik langsung yang ke pelabuhan atau kalau mau ke kota lagi juga gampang,” ucapnya ketika kami bangkit bersiap turun.

Wajar saja para pengadu keberuntungan gemar ke kasino ini. Balutan entertainnya kental sekali. Semua ada di dalamnya. Pusat belanja, restoran, hotel kelas atas, area bermain dan hiburan. Mereka pasti betah berhari-hari di sini tanpa keluar gedung. Hingga keping terakhir musnah dilahap ketidakberuntungan. Tepat di tengah pusat belanja, kanal luas yang dibuat semirip mungkin dengan Venesia dan gondolanya menjadi tempat berkumpul utama para pengunjung.

“Sampai sini saja, ya, aku harus balik lagi. Kalau mau lihat-lihat kasino di bawah boleh kok, ya lihat-lihat saja. Sampai ketemu lagi, Muthia, nanti aku benar ya kirim email tulisanku,” pamitnya.
“Siap, ditunggu lho, Mbak. Kalau pas main ke Jakarta kabarin ya, makasih banyak sudah dibantu dan dtemani.” Balas saya mengucap kata pisah.
“Pasti, salam buat kekasihmu yaaa!” tutupnya sambil menyalami dan memeluk saya sekilas, lalu berbalik badan bergegas mengejar bus berikutnya. Mengejar masa depan yang ia rencanakan pelan-pelan, tak peduli sepahit apa hidup sudah memperlakukannya.

Saya menatapnya hingga tenggelam ditelan serombongan turis asing yang baru masuk. Menatapnya sampai lenyap sepenuhnya dari pandangan saya. Saya tahu tipis kemungkinan kami akan berjumpa lagi. Dua orang yang sebelumnya asing, perlahan kembali asing.


Dan, saya pun akhirnya berbalik badan, mencoba menulis lagi cerita baru dalam lembar kehidupan saya yang berikutnya. Lembaran yang entah akan saya tulisi dengan kisah tentang apa. Tentang siapa.


(esfand)

Rabu, 22 Januari 2014

Yang Hijau dan Asri "Slovenia"


Ljubljana
 
Bingung saat pertama kali aku harus menyebutkan nama kota ini, menyebutkan dengan lafal Indonesia ataupun Inggris kedengaranannya janggal, “liub’liana” begitu cara menyebutkannya.
Slovenia adalah negara kecil di Eropa tengah yang berbatasan dengan Itali di bagian barat, Kroasia di bagian selatan dan timur, Hungaria di bagian timur laut, dan Austria di bagian utara. Ibukota dan kota terbesar di Slovenia adalah Ljubljana.

Aku meyusuri kota tua Ljubljana membentang di antara Kastil Ljubljana dan dan sungai  Ljubljanica, dengan beberapa gedung tua dari abad pertengahan yang sekarang menjadi toko-toko, café dan restoran. Kemudian lanjut melewati Town Hall ke Cathedral of Saint Nicholas dan pasar tradisional. Setelahnya aku melewati jembatan naga, Zmajski Most, yang di kedua ujung jembatan dipasang 4 patung naga di bagian atasnya. Aku menyeberangi jembatan naga dan jalan kembali ke arah kota tua, lalu berhenti di Preseren Square tempat Franciscan Church of the Annunciation berada. Preseren square yang populer sebagai tempat meeting point cukup ramai saat itu karena cuaca bagus dan hangat sehingga banyak penduduk lokal dan turis jalan-jalan ataupun duduk di café-café atau bangku yang ada disekitar. Dekat Preseren Square berdiri Triple Bridge Tromostovje, 3 jembatan yang berdekatan sama lain yang ramai dilalui orang. Aku kembali ke kota tua untuk makan siang yang aku beli dari restoran take away dan duduk di pinggir sungai Ljubljanica menikmati makan siangku di bawah pohon yang teduh.

Setelah makan siang aku lanjut jalan ke Ljubljana Kastil yang berada di atas bukit untuk melihat pemandangan kota sampai Kamnik Alps. Aku juga melewati beberapa bangunan seperti Gereja Saint James, National Library, Summer Theatre, dan beberapa museum di sekitar pusat kota. Dilanjutkan ke Roman Wall, jalur pendek di sebelah barat pusat kota yang merupakan peninggalan dari tembok kota Romawi jaman dahulu.  

 
Maribor

Maribor adalah kota kedua terbesar di Slovenia setelah Ljubljana. Mengelilingi pusat kota Maribor cukup dengan jalan kaki karena kotanya yang relatif kecil. Bus juga ada untuk ke tempat wisata di luar kota seperti Pegunungan Pohorje. Sore harinya jalan-jalan lewat taman Mestni yang sangat besar untuk ukuran kota Maribor yang relatif kecil. Lanjut naik ke Bukit Piramida yang dipenuhi kebun anggur dan sampai di puncak bukit dimana dulu berdiri Kastil Maribor. Sungguh menyenangkan menikmati pemandangan ke kota Maribor dan sungai Drava.

Setelahnya kembali ke alun-alun kota, Glavni Trg, tempat Mestna hisa Rotovz (Town Hall), Kuzno Znamenje (Plague Column), dan Alojzijeva Cerkev (Aloysius Church), dan beberapa bangunan bersejarah lain berada. Tempat itu juga dipenuhi toko, café, dan restoran. Jalan kaki di lanjutkan ke Lent, bagian kota tua di sepanjang sungai Drava dengan Hisa Stare Trte (Old Vine House) yang memiliki anggur tertua di dunia, menara pertahanan Vodni Stolp (Water Tower), Sodni Stolp (Judgement Tower), dan Jewish part dengan Sinagoga (Maribor Synagogue) yang merupakan Synagogue tertua kedua di Eropa, Zidovski Trg (Jewish Square) dan Zidovski Stolp (Jewish Tower). Sempat juga melihat Stara Trta, pohon anggur yang berumur sekitar 450 tahun dan masuk ke Guinness Book Record sebagai pohon anggur tertua di dunia. Pohon anggur ini tumbuh di depan Old Vine House di Lent. 


 
 -arunia

Selasa, 21 Januari 2014

Vigan City dan Magi Katedral Tua




Konon, hikmah adalah harta karun milik manusia yang menyerpih di sepanjang jalan. Tergantung manusianya, mau berjalan dan memungutinya atau melewatkannya begitu saja.

Hujan sore di penghujung Mei 2013 membuatku menaikkan tudung hoodie ungu rapat-rapat, kemudian segera menyandang Deuter pinjaman warna biru dan bergabung bersama antrean penumpang bus Partas rute Manila-Vigan di depo Partas daerah Cubao. Koper-koper besar dan bungkusan lainnya ikut berjajar di dekat bagasi, menunggu giliran untuk tergeletak hangat di samping mesin. Sepertinya banyak yang berniat pulang kampung, atau mungkin sekadar berlibur akhir pekan. Udara yang dingin bersenyawa dengan aroma hujan yang terasa kurang familier di hidung. Setiap kota punya aroma hujannya masing-masing.

Semua kursi hampir terisi penuh rupanya, sekilas kulirik potongan tiket di tangan, memastikan nomor kursi yang kubeli. Seorang laki-laki berseragam Partas menghampiriku dengan berondongan kalimat Tagalog. Tak terlihat asingkah wajah Jawaku? Tanpa tahu harus menjawab apa, kuacungkan tiket seharga 600-an peso dengan kerlingan ala kadarnya dan melangkah ke bagian dalam bus.

Sepertinya teman seperjalananku sudah lebih dahulu duduk. Perempuan Filipina yang kutaksir berusia lima tahun di atasku. Astaga, bawaannya sebanyak itu? Lantas, di mana aku bisa duduk? Tampaknya ia tahu bahwa aku adalah pemilik kursi di sampingnya, ia segera saja berdiri dan menyapaku dalam bahasa Tagalog.

“Sorry, I can’t speak Tagalog,” jawabku buru-buru, sebelum ia menghabiskan satu halaman pertanyaan.
“Oh, oke, kamu duduk di sini? Sebentar, biar saya bereskan dulu barang-barang saya,” ujarnya dalam bahasa Inggris sambil mulai sibuk merapikan barang. Sebagian dipaksanya ikut berjejalan dengan barang lain miliknya di bagasi atas tempat duduk. Mirip pemudik lebaran.

Kursi di samping jendela akhirnya berhasil kududuki. Spot favorit untuk menikmati perjalanan darat ke bagian utara Pulau Luzon, salah satu pulau besar di Filipina tempat ibu kota negara berada. Bulir-bulir hujan mulai menghiasi jendela kaca, memaksa siapa saja untuk sesaat terdiam dan mengenang. Hujan mungkin hadiah Tuhan bagi manusia yang butuh momen untuk menikmati kedamaian.

“Saya kira kamu orang Mindanao, ternyata bukan Filipino?” perempuan di samping saya tiba-tiba berkomentar.
“Ah, bukan, saya dari Indonesia, Jakarta,” jawab saya dengan senyuman. Sejak hari pertama mendarat di Manila, entah sudah berapa orang yang mengira saya orang setempat.
“Oh, Indonesia? Saya punya banyak teman dari Indonesia. Saya kerja di Hong Kong, asisten rumah tangga….” Dan mulailah ia bercerita tentang pekerjaannya dan teman-teman Indonesianya yang sulit berbahasa Inggris. Ceritanya mengalir seperti air bah, seperti keran yang lama tidak dibuka. Rupanya ia bagian dari ratusan ribu pekerja Filipina yang ada di Hong Kong, sedang cuti kerja dan baru mendarat beberapa jam lalu. Sambil bercerita, ia mengeluarkan beberapa kotak cokelat dari tas tenteng di dekat kakinya.

“Cokelat? Tanyanya sambil menyodorkan sekotak ke arahku. “Halal, no pork,” tambahnya lagi sambil tertawa. Kucomot beberapa denga sigap. Lumayanlah, pengganjal perut yang sejak pagi baru diisi fish burger McD.

Tak hanya aku yang ditawari ternyata, dengan meriahnya ia menawari penumpang lain di dekatnya, lalu memanggil kondektur bus dan menyodorkan beberapa kotak kepadanya. Membuatku berprasangka, jangan-jangan semua tas yang dibawanya ini berisi cokelat. Slurp.

Tampaknya bus mulai melaju ke luar kota. Hujan turun dengan rata. Semoga cuaca Vigan esok hari cerah ceria. Aku tak punya tujuan utama di Filipina selain datang ke Ciudad Fernandina de Vigan, 408 km dari Manila. Kota tua bergaya hispanik peninggalan Spanyol dari tahun 1572 yang menjadi bagian dari world heritage site UNESCO.

Vigan City yang menjadi bagian dari Provinsi Ilocos Sur sebenarnya bisa dijangkau dengan pesawat dari Ninoy Aquino International Airport. Bagi yang memilih jalur darat, beberapa layanan bus eksekutif bisa menjadi pilihan. Modalnya cuma satu, siap bosan delapan sampai sepuluh jam di dalam bus.

“Kamu terlihat masih muda, cantik lagi, berapa usiamu?” tanya perempuan di sebelahku, membuatku mengalihkan pandangan dari deretan rumah di luar jendela. Senyumku melengkung mendengar tanyanya, sambil buru-buru merapikan kerah hoodie dan sikap duduk, halah!

Setelah kusebutkan usiaku, ia berkomentar lagi, “Masih muda, sudah menikah? Punya boyfriend?” Lengkap amat, Mbak, nanyanya, gumamku dalam hati.

“Belum, kamu?” jawabku pendek.
“Sudah punya boyfriend, tapi masih belum siap untuk menikah. Di Hong Kong, beberapa teman saya biasa punya dua pacar, satu di sana, satu di negara asalnya. Saya tidak mau, repot. Saya masih ingin bekerja untuk Mama. Oh ya, agamamu apa? Muslim? Saya pernah bekerja di Saudi, majikan saya bilang saya muslim karena saya pernah ucap syahadat yang mereka ajarkan, padahal kan saya cuma belajar mengucapkan saja,” ujarnya sambil tertawa lebar, mengibaskan rambut panjangnya yang sempat menyapu tepian wajahku.

“Kamu sendiri merasa agamamu apa?” tanyaku sekilas, sambil mulai mencopot sneaker dan duduk bersila di kursi. Dasar, wong jowo, rek!

“Katholik Roma, sama seperti kebanyakan Filipino. Mungkin tidak terlalu taat, tapi saya yakin Tuhan selalu ada di sekitar saya. Oh ya, banyak teman Indonesia saya makan pork, padahal mereka muslim, mengapa begitu?” tanyanya lagi. Topik berat, nih. Kelak, aku baru tau kalau Filipina ternyata negara dengan pemeluk Katholik Roma terbesar di Asia, nomor tiga di dunia. Nuansa itu sangat terasa dengan katedral-katedral tua yang bertebaran di negara ini.

“Itu pilihan mereka. Bagi saya, meyakini Tuhan itu yang utama. Tuhan sebagai pusat dari keberadaan semesta. Keyakinan yang membuat saya menjalani nilai-nilai Tuhan yang ada dalam agama yang saya pilih, Islam. Pengetahuan dan keyakinan membuat kita tahu mau berbuat apa, bukan?” ucapku.

“Iya, bagi saya juga agama itu harus diyakini sendiri dulu, bukan ikut-ikutan. Saya pernah berdoa di katedral tua di kota saya, rasanya seperti malaikat ada di sekeliling saya. Sejak itu saya selalu meyakini Tuhan saya. Besok saya akan berdoa lagi di katedral di Vigan,” ucapnya sambil tersenyum.

Entah mengapa, setiap kali traveling sendiri, aku sering bertemu momen semacam ini. Momen bertukar obrolan dengan orang asing yang dengan santainya bercerita tentang hidup mereka kepadaku. Tak jarang tentang rahasia kecil mereka. Menarik. Kadang, perbincangan tentang Tuhan menjadi lebih apa adanya jika dilakukan dengan orang asing yang kita temui di tengah jalan, jauh dari rumah. Seperti kata pepatah Arab, cahaya hanya jatuh menimpa orang asing.

Malam yang masih berteman hujan membuat hening tercipta di dalam bus. Suasana yang tepat untuk mulai bersedekap dan memejamkan mata. Letih setelah seharian berkeliaran di kawasan kota tua Manila mulai memberati pelupuk mata.

Beban yang sedikit berat di bahu kiriku membuatku terbangun dan menoleh ke kiri. Rupanya ia pun terlelap, dengan kepala tersandar di bahuku. Kubiarkan saja ia menitipkan poros lelapnya di bahuku, hitung-hitung barter dengan beberapa butir cokelat yang tadi rakus kulahap.

Bus tiba-tiba berhenti di depan jajaran warung, membuat perempuan di sampingku ikut menghentikan tidurnya.

“Ayo, turun, makan malam,” ajaknya kepadaku.

Setelah memakai lagi sneaker-ku dan membawa semua barang berharga dalam tas kecil yang meliliti pinggang, aku bergegas menyusulnya turun. Comfort room alias toilet menjadi tujuan pertamaku. Kurang tahu, mengapa toilet disebut CR di sini. Membuatku penasaran, toilet punya berapa banyak julukan di seluruh dunia.

Apa yang bisa kumakan di sini? Tempat pemberhentian bus ini bukan semacam rumah makan, lebih tepatnya kumpulan beberapa penjual makanan cepat saji, seperti mi instan, sosis goreng, roti, dan jajanan khas Filipina lain. Penjual mi instan menjadi satu-satunya pilihan buatku.

Ke mana ia? Ekor mataku mulai mencari-cari teman dudukku. Lambaian tangannya dari depan penjual jajanan membuatku menghampirinya dengan cup mi instan panas di tangan.

“Ah, iya, kamu memang cuma bisa makan mi instan di sini,” komentarnya melihat menu makan malamku. “Saya sudah lama kangen makan balut, tapi kamu tidak bisa makan,” ujarnya sambil memperlihatkan sebutir telur rebus di tangannya.

Rupanya ini balut yang tersohor itu. Semacam telur bebek rebus dengan embrio yang masih ada di dalamnya. Embrio yang sudah dibuahi tersebut berusia 17 hari, dengan bentuk bebek kecil yang mulai mewujud. Bagiku, ini semacam makanan yang layak masuk daftar The Most Horrible Food in The World. Trust me. Beberapa penumpang bus tampak menikmati berbutir-butir balut saus pedas dengan nikmatnya. Perempuan itu tampak malu-malu meneguk balut-nya. Aku? Pura-pura sibuk mengaduk kuah mi instan, agar bayangan tentang embrio bebek segera lenyap. Manusia, selalu tak puas dengan makanan yang “standar”.

“Tunggu, ya, saya mau tambah satu lagi,” ucapnya tersipu. Mungkin rautnya mirip sepertiku ketika sibuk dengan kepiting saus telur asin super lezat di RM. Ujung Pandang, Gandaria. Antusiasme terhadap makanan itu berkah Tuhan, agar setiap suapnya selalu terasa lezat.

Perut yang kenyang membuat semua penumpang memilih untuk memejamkan mata. Senada dengan suasana temaram jalanan di luar jendela yang hanya diterangi lampu jalan yang redup. Masih beberapa jam lagi untuk finish.

Waktu setempat menunjuk pukul 02.30 pagi buta ketika bus mulai memasuki depo Partas cabang Vigan. Astaga, pagi amat! Ini, sih, terlalu cepat. Kupikir baru akan sampai pukul 06.00 sehingga aku tidak persiapan untuk booking hotel.

“Bagaimana kalau kamu menginap saja di hotel saya? Kalau masih ada kamar kosong, tak apa kalau kamu mau pesan sendiri, kalau tidak ada kamu tidur di kamar saya saja,” usul suara di sampingku, seolah tahu kegusaranku. Mau berkeliaran di jalanan sepagi ini juga ngeri.
“Tak apa? Hotelmu di mana?” tanyaku menyambar usulannya.
“Dekat dengan hotel, tadi saya sudah tanya ke kondektur. Katanya tinggal jalan kaki saja.”
“Hmm, bolehlah.”

Kesepakatan kami menandai berhentinya bus di dalam depo. Membuat kami semua serentak membereskan barang masing-masing. Alamak, kupikir cuma tiga tas besar yang menjadi barang bawaannya. Tidak tahunya… masih ada satu koper lagi di dalam bagasi.

Ia tampak repot ingin membawa sendiri semuanya. Perempuan macam apa aku kalau tidak membantunya. Langsung saja kuambil dua tas tenteng plus satu kantong plastik yang beratnya masyaallah sekali. Apa sih isinya?

“Maaf, ya, jadi merepotkan. Itu hotel saya yang ada lampu hijau di atasnya,” ucapnya buru-buru sambil menunjuk ke arah hotel Green City yang kutaksir berjalan sekitar 200 meter dari depo bus. Jarak yang terasa panjang dengan gembolan kami berdua.
“Berat, ya? Isinya oleh-oleh buat saudara di sini, hehe.”
“Ah, enggak, kok, biasa saja,” jawabku sok superwoman. Padahal… Apa jadinya dia kalau sendirian menggeret semua barang ini? Takdir butiran cokelat rupanya membawa kami kepada simbiosis semacam ini. Meskipun berpeluh pada pagi buta, rasanya menyenangkan.

Green City Hotel untungnya masih memiliki satu kamar kosong standar untukku. Tidak enak juga kalau harus menumpang, meskipun aku sudah berencana menawarinya sharing cost. Lumayan juga kalau bisa menyimpan ranselku di hotel sementara jalan-jalan sekitar kota nanti.

Setelah membantunya menaikkan barang-barang sampai ke lantai empat (dan, yeah, tak ada lift di hotel ini, sodara!), kami pun saling mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Kami tak sempat bertukar nama, hanya bertukar isi kepala dan huluran tangan. Dan, itu lebih berbekas di dalam dada.

Membuka mata di tempat asing itu seperti tertidur dengan halaman buku terbuka di pangkuan, dan ketika terbangun kita sudah ada di dalam cerita buku itu. Kata orang, berkeliling Vigan cukup dua jam saja karena yang ada melulu bangunan tua. Bagiku, justru itu hal mengasyikkan yang membuatku betah mengitarinya berjam-jam. Dulunya, Vigan terpisah dari daratan utama Pulau Luzon oleh Mestizo River yang mengelilingi. Pendangkalan sungai membuat Vigan akhirnya menyatu dengan daratan utama.

Ketika berbelok menyusuri A. Reyes Street, aku seperti masuk ke serial telenovela Little Missy yang dulu sering ditonton bundaku. Jalanan batu dari abad ke-16; bangunan tua bergaya Eropa berpadu oriental yang berubah menjadi toko oleh-oleh, restoran, atau kafe; beberapa calesa (semacam delman yang ditarik kuda, peninggalan era Spanyol) pengangkut turis yang berseliweran di sekitarku. Cuma tinggal gadis-gadis bergaun panjang dan berpayung renda saja yang kurang.

Istilah hari Minggu adalah hari ibadah tampak terasa di kota ini. Paling tidak jika dilihat dari keramaian di katedral St. Paul yang ada di ujung Burgos Street. Benar kata orang, jangan datang ke Vigan dengan ekspektasi hura-hura ala Manila. Suara kidung dalam bahasa latin menjadi latar suara kota sejak pagi tadi. Kidung yang indah di telinga, meski aku tak tahu apa artinya. Apa-apa tentang Tuhan memang ada kalanya terdengar asing, tetapi getarannya merembes sampai ke hati.

Deretan kedai yang dipadati pembeli di Plaza Burgos menarikku ikut mendekat. Ah, rupanya mereka sedang menyantap empanada, semacam pastel isi daging dan sayuran. Minggu sore selepas misa, masyarakat setempat biasa duduk-duduk makan empanada di sekitar sini. Untung saja aku bisa memesan empanada isi sayuran saja.

Obrolan dalam bahasa Tagalog meramai di sekitar tempatku duduk, dengan sepiring empanada di hadapan. Keluarga lengkap dengan ayah, ibu, dan anak-anak remajanya di depanku. Anak muda dengan gerombolan temannya di sebelah kananku. Seorang gadis dengan teman perempuannya di sisi kiriku. Berada di tengah orang asing terkadang membuat rasa terasingkan perlahan sirna, berganti dengan hal-hal yang selama ini luput disadari. Kebiasaan, rutinitas, dan orang-orang familier di sekitar, tak jarang membuat cahaya dari kedalaman hati meredup. Rutinitas membuat kita merasa aman, kekal. Padahal kita belum lagi selesai bertumbuh.

Alunan kidung misa sore masih terdengar syahdu, meskipun matahari senja sudah mulai turun. Di antara kerumunan orang asing, membuatku mencari sosok yang tidak pernah asing. Tuhan. Kidung itu terasa mengetuk-ngetuk pintu hati, mengajak langkahku untuk mendekat ke sumbernya. Aku tahu itu bukan rumah ibadahku, tetapi bagiku Tuhan terlalu agung untuk hanya diberi satu rumah. Lewat pintu sampingnya, aku menyusup masuk ke dalam katedral tua. beberapa jamaat masih memenuhi bangku-bangku kayu bagian depan.

Aku duduk di dekat pintu. Merasakan kedamaian yang teralun dari kidung yang masih dilantunkan orang-orang di sekitar altar. Mungkin ini yang dirasakan teman perjalananku itu, ketika bercerita tentang apa yang dirasanya di sini bertahun lampau. Tak ada jemaat yang melirikku curiga, semua sibuk dengan diamnya masing-masing.

Aku ingin berdoa. Dorongan itu terasa membuncah. Tiba-tiba saja aku sudah berlutut. Merapal doa sore, berterima kasih kepada Ilahi Rabbi atas semua berkat dan terang jiwa. Melantunkan doa bagi tiga orang sahabatku. Doa yang pada kemudian hari menjadi pengikat yang aneh di antara kami. Membuat kami saling terkoneksi dan menjalani takdir relasi yang tak terduga.

Senyum terbit di wajahku yang separuh disinari lampu jalanan yang mulai menyala. Sama terangnya dengan pelita yang baru saja dinyalakan di hatiku. Ini seperti akhir sesi traveling yang tak bisa dikonversi ke dalam peso atau rupiah. Senja berganti gelap ketika kakiku menyusuri jalanan batu tua menuju depo Partas untuk kembali ke Manila. Dengan saku celana penuh cerita dan hati yang menghangat.

-esfand





Jumat, 07 Desember 2012

Italia, 21 Juli-2 Agustus 2009


Roma, 21-23 Juli 2009

Termini adalah stasiun kereta api terbesar dan tersibuk yang pernah aku lihat di Eropa. Ratusan bahkan mungkin ribuan orang berdesakan di stasiun Termini. Hampir semua petunjuk arah dalam bahasa Itali dan sangat sedikit dalam bahasa Inggris. Karena merasa kebingungan, aku mencoba cari Tourist Information untuk booking kereta api ke Perugia untuk 2 hari kemudian. Setelah melihat satu tanda panah Tourist Information dan bertanya-tanya ke beberapa orang, yang sangat minim kemampuan berbahasa Inggrisnya saat mencoba menjelaskan letak Tourist Information, ternyata seorang laki-laki gemuk besar yang berdiri di tengah-tengah keramaian adalah petugas berseragam Tourist Information. Sampai sekarang aku masih bingung, di mana kantor Tourist Information di Termini? Mungkin orang gemuk besar itu yang disebut sebagai Tourist Information? Dengan aksen itali yang kental dan keras, dengan ketus petugas tadi menunjukkan tempat di mana aku bisa booking tiket untuk ke Perugia.  Culture shock! Sempat bikin panik, bingung, dan hilang arah.  

Selesai dengan urusan tiket, kebingungan lagi aku cari terminal untuk subway. Aku coba cari petugas Tourist Information yang tadi, tapi di tengah ribuan orang, petugas yang berbadan besar itu seperti hilang ditelan bumi. Aku bertanya-tanya lagi ke beberapa orang yang menunjukkan arah ke terminal subway, tapi dengan papan petunjuk yang minim hampir selama 30 menit aku hanya berputar-putar kebingungan tanpa berhasil menemukan terminal subway. Entah dari arah mana, tiba-tiba datang bapak tua yang menegurku dan menanyakan apakah aku perlu bantuan. Aku langsung bertanya kepadanya, “Where is the subway terminal please?” dengan muka memelas dan bingung. Bapak tadi menawarkan diri untuk mengantarku ke terminal Subway bahkan ikut mengantarku sampai stasiun Cipro, tempat temanku Arianna akan menjemput.

Awalnya aku sedikit curiga karena memikirkan apakah niat Bapak ini tulus atau ada maunya? Tidak banyak orang di Eropa yang mau menawarkan bantuan, apalagi ditengah kesibukan aktivitas mereka. Mungkin ia menangkap kekhawatiranku sehingga Bapak tadi menunjukan tanda panah ke arah subway ke stasiun Cipro, bahkan membayar tiket subway untukku walaupun cuma Euro.1. Dengan sedikit lega aku naik ke subway bersamanya dan bertanya kepadanya, “Why do you want to be hassle to help stranger like me?” Dia bilang karena aku kelihatan bingung dan perlu pertolongan, “and you are look like a good person,” katanya.

Bahasa inggrisnya lumayan bagus untuk ukuran orang Italy yang berumur sekitar 70 tahun. Untungnya, dia satu arah perjalanan denganku, hanya satu stasiun sebelum Cipro. Walaupun begitu, dia tetap turun bersamaku di Cipro dan membawaku ke taman kecil dekat stasiun untuk menunggu kedatangan temanku. Setelah yakin aku aman, Bapak tadi kembali ke stasiun sambil melambaikan tangannya kepadaku. Suatu pengalaman yang memberikanku pelajaran berharga mengenai arti saling tolong-menolong dimana saja dan kapan saja. 

Esok harinya aku mulai jalan-jalan dengan subway ke Piazza del Popolo, sambil mencari-cari Tourist Informaton buat ambil city map. Karena nggak ketemu juga, akhirnya aku bertanya pada Polisi yang ada di sekitar Piazza del Popolo, yang dengan ketus bukannya membantu menunjukkan, tapi malah bertanya dari mana asalku dan maksud kedatanganku ke Roma. Dengan jengkel dan tanpa menjawab aku tinggalkan Pak Polisi di Piazza del Popolo sambil bertanya kanan-kiri letak Tourist Information. Akhirnya ada pasangan turis yang berbaik hati mau memberikan salah satu peta yang mereka punya. Selalu datang pertolongan dari seseorang yang tak terduga.

Dari Piazza del Popolo aku jalan terus lewat Via Del Corso dan belok ke arah Piazza Di Spagna, tempat Gereja Trinita dei Monti dan Spanish Steps yang terkenal berada. Lanjut ke Piazza Poli, tempat Fontana di Trevi berada dengan bangunan air mancur bergaya arsitektur Baroque dan merupakan salah satu air mancur terkenal di dunia. Setelahnya aku menyebrangi jalan Via Del Corso untuk pergi ke Piazza Della Rotonda, tepat Pantheon berada, yang merupakan temple dari Gods of Ancient Rome. Lanjut ke Piazza Navona dengan air mancur 4 sungai dengan Dewa Obelisk ditengahnya. Lalu kembali jalan lumayan jauh ke Piazza Venezia dan Piazza Campidoglia, yang bangunannya didesain oleh artis Renaissance dan arstitek Michelangelo.

City tour dilanjut ke Foro Romano, yang merupakan kawasan seperti alun-alun yang dikelilingi reruntuhan bangunan tua pemerintahan di pusat kota Roma. Keudian jalan terus ke Palatino Colosseo, yang merupakan amphitheatre terbesar di pusat kota Roma yang pernah dibangun pada masa Romawi. Tujuan selanjutnya adalah Domus Aurea, sisa reruntuhan bangunan yang berada tidak jauh dari Colosseo. Sebelum kembali ke apartemen Arianna, aku sempat mampir ke gereja Roman Katolik Santa Maria Maggiore.

Roma adalah salah satu kota favoritku dengan sejarah romawinya. Mengelilingi tempat-tempat bersejarah di Kota Roma tidak cukup hanya dua hari. Sayang sekali, saat itu aku hanya punya waktu 2 hari di Roma sehingga tidak bisa melihat semua tempat. Kota Roma sendiri merupakan bagian dari sejarah yang tidak bisa dilewatkan. Transportasi tidak harus dengan jalan kaki, selalu ada subway ke tempat-tempat wisata, hanya dengan Euro.1 per sekali jalan dan bisa dikombinasikan dengan jalan kaki untuk tempat yang berdekatan. Sangat penting untuk punya peta di kota Roma, yang menunjukkan tempat wisata, stasiun subway, dan nama-nama jalan yang tidak mungkin hanya bisa mengandalkan penjelasan lisan penduduk setempat.

Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan jalan di Kota Roma, termasuk jalan-jalan kecil yang membingungkan. Turis yang baru pertama kali datang ke Roma hampir tidak memungkinkan untuk jalan-jalan di Roma tanpa peta. Roma juga merupakan salah satu kota di Eropa yang banyak memiliki piaza (alun-alun) yang jaraknya berdekatan satu sama lain. Saat itu adalah bulan Juli, saat ketika panas bisa sampai 35 derajat celcius, ditambah lagi dengan resiko harus berdesakan dengan banyak turis di semua tempat wisata. 

Malam harinya Arianna, Miki (pacar Ariana) dan salah satu teman mereka mengajakkku makan di salah satu restoran Itali yang terkenal di Roma. Restoran Enzo di Trastevere adalah satu restoran terkenal di Roma, yang terletak di salah satu jalan sempit berbatu yang terkenal dengan masakan khas Roma. Restorannya sendiri kecil dan tamu yang makan harus bergantian duduk dan memesan secepatnya supaya tamu yang lain bisa bergantian masuk. Makanan Itali yang disajikan seperti pasta, seafood, salad, ataupun daging yang dimasak sangat special, yang sampai sekarang buatku adalah makanan Itali terenak yang yang pernah aku makan di restoran.

Arianna memilih banyak menu makanan tipikal Roma seperti pasta dengan keju, artichoke dengan olive oil, dan makanan lain yang tidak mampu aku jelaskan satu-satu karena jenis dan rasanya yang luar biasa. Pelayannya sendiri bersama pemilik tak berhenti-henti jalan keliling restoran menyajikan makanan cara Itali yang bisa membuat piring dan gelas hampir berterbangan ke meja-meja pengunjung. Arianna dan yang lain selalu saling tunjuk siapa yang mau bikin order karena takut bikin kecewa pelayan yang bermuka keras dan bicara Itali non stop seperti kereta api setiap kita bikin order baru karena berarti lebih lama lagi orang antri nunggu di luar Restoran. Untungnya bukan aku yang ditunjuk Arianna, bisa gemetaran dan shock duluan sebelum makanan sempat aku order.

Tentu saja mereka cuma bercanda, pemilik dan pelayan restoran memberlakukan semua tamunya seperti keluarga dengan berbicara dan bercanda keras dan hangat tipikal Itali. Suatu pengalaman menarik makan di Enzo Restoran, makanan sangat lezat, suasana restoran yang kekeluargaan dan hangat penuh dengan canda dari pemilik dan pengunjung. Kalau ada kesempatan datang ke Roma, jangan lupa untuk coba mampir ke Enzo Restoran di Trastevere.

Setelah makan, kami jalan-jalan di sekitar Piazza Trastevere dan melihat artis lokal yang cukup terkenal di daerah itu, pesulap Magaguada, yang selalu mengadakan show di Piazza Trastevere setiap malam. Magaguada juga terkenal karena beberapa penggemarnya meng-upload aksi sulapnya ke Youtube. Malam hari, banyak orang-orang, terutama anak muda, yang keluar untuk menikmati suasana hangat pada malam hari, untuk menghindari panasnya matahari pada siang hari yang bisa sampai 40 derajat celcius. Banyak toko-toko yang menjual barang-barang unik seperti sepatu ataupun pakaian dengan model yang unik dan berbeda. Tidak mengherankan karena Itali terkenal sebagai salah satu pusat mode di Eropa. Dalam perjalanan pulang kami melewati daerah perbukitan yang bisa melihat pemandangan Vatican di malam hari dengan cahaya gemerlapnya.

Pagi harinya, cukup dengan berjalan kaki dari Cipro aku menuju ke Vatican City, yang termasuk di dalamnya adalah Saint Peter's Basilica, Apostolic Palace, Sistine Chapel, beberapa museum dan bangunan lainnya. Apostolic Palace, yang merupakan rumah tinggal Pope, dan Saint Peter Basilica terletak di alun-alun Saint Peter yang dari jam 8 pagi sudah dipenuhi pengunjung. Saint Peter Basilica mempunyai interior terbesar di antara semua Gereja Katolik di dunia. Sayang sekali, aku tidak bisa berkeliling di dalamnya karena antrian yang panjang. Ketika beranjak ke Sistine Chapel, ternyata sudah penuh antrian juga. Karena waktu yang semakin siang dan sudah terlanjur janji untuk makan siang dengan Arianna, aku jadi tidak bisa ikut ngantri dan masuk ke Sistine Chapel untuk melihat lukisan terkenal dari Michelangelo. Segera  aku jalan kaki ke Castel Sant’Angelo, yang sekarang menjadi museum dengan patung Angel di puncaknya. Jalan masuk ke Kastil dipenuhi beberapa patung Angel di kanan dan kirinya.

Setelahnya, aku kembali ke apartemen untuk makang siang bersama Arianna. Arianna mengajakku ke restoran seafood milik keluarganya yang nggak jauh dari stasiun subway Cipro. Pemilik restoran, Ayah Arianna, menyambutku dengan hangat dan menaruh masakan seafood ala Itali seperti udang, kerang, cumi-cumi, dan ikan secara melimpah-ruah di mejaku, yang sayangnya tidak bisa kumakan semua. Masakan seafood ala Italia dengan bahan bumbu sederhana sangat nikamat di makan saat siang hari yang panas. Selesai makan siang aku segera kembali ke apartemen karena harus packing untuk ke Perugia sore harinya. Dari pengalaman dua hari sebelumnya di Termini, saat mau ke Perugia aku datang ke stasiun Termini sekitar 1 jam sebelum kereta berangkat supaya tidak kebingungan lagi dan punya cukup waktu sebelum kereta berangkat karena kereta di Itali berangkat lumayan tepat waktu sampai ke detiknya. Sedih juga harus meninggalkan Roma dan Arianna yang sangat baik dan terus menawarkan untuk tinggal lebih lama, dan juga beberapa tempat di Roma yang tidak sempat aku kunjungi. (bersambung)
 

~Arunia